Kamis, 25 Juni 2009

RADJA LATAH

Urusan latah, sudah bukan persoalan yang penting di dunia hiburan kita. Faktanya, mereka sangat menikmati penyakit aneh tersebut. Lihat Pok Atik, Parto, Kiwil, dan yang lainnya mereka dengan bangga mempertontonkan latah dengan sempurna sehingga menimbulkan gelak tawa pemirsa.
Namun latah yang saya maksud di sini adalah latah karya, latah kreativitas, sehingga sudah tidak kreatif lagi. Sebenarnya sudah tidak asing pula tentang latah-latah kreativitas seperti ini, di negeri ini. Karena hal itu sudah menjadi ciri khas yang nyata. Ketika lagu "Sempurna" dari Andra And The Backbone meledak, Kelompok Band Naff, mencoba mengikuti dengan lagu "kaulah hidup dan matiku". Liriknya banyak sekali kemiripan. 'Kau adalah darahku, kau dalah jantungku, kau adalah hidupku, lengkapi diriku oh sayangku kau begitu....sempurna (Sempurna). Coba kita simak juga lagu Naff: "Kaulah hidupku, kaulah nafasku.....dst. Maka tidak heran kalau yang latah tentunya akan cepat tenggelam, sedangkan 'Sempurna" tetap menjadi lagu yang sangat dikenang.
Latah yang palig kentara tentu saja adalah Rajanya latah: RADJA. Ian Kasela yang dengan penampilannya memang sangat mirip dengan Armand Maulana dari GIGI. Simak dari gaya nyanyinya, suaranya, sampai penampilannya. Sungguh suatu latrah yang snagat kentara.
Ketika Ahmad Dani membuat band The Lucky laki yang digawangi oleh anak-anaknya al, El dan Dul. Radja segera berkata " Aku juga bisa". sambil seraya membuat band Pangeran dan Radja kecil. Lihat video Radja kecil yang jelas-jelas pelatahan dari lagu "Aku bukan Superman".
Oh, radja memang Raja latah.

Rabu, 24 Juni 2009

NEGERI PINGSAN

Telah kuhisap air tebu di bibirmu yang menempel di rekah parabola.
Sungguh manis rasanya, sampai aku ketagihan seperti iklan wafer momogi.
Lalu akupun pingsan. kutemukan para petani sedang sms-an dengan teman-temannya.mereka tertawa-tertawa bercerita tentang padi yang sekuning paha para gadis bank yang selalu tersenyum ramah ketika setor.
Mereka juga bercerita tentang panen yang berlimpah. Buah jerami itu sungguh elok bila bersanding dengan para cukong dan berubah menjadi rupiah.
Kutemukan juga para nelayan yang sedang rebahan di hotel-hotel tepi pantai.
Mereka membuka seluruh pakaiannya, di perutnya mengeluarkan ikan-ikan yang bergelimpangan. Seperti para petani, mereka tertawa-tertawa membayangkan kura-kura di buah dada gadis bank itu. Mereka bersalaman dengan pengusaha yang pergi meninggalkan gepokan kertas bergambar pahlawan. Dunia petani dan nelayan adalah dunia indah di pingsanku yang hipno.

Telah kureguk anggur di cawan-cawan kotakmu. Yang kausambungkan lewat selang-selang satelit. Lalu aku kepayang di empuknya kasur tipis. Kulihat tukag becak sudah tak mau mengayuh, tukang jahit malas membuat pola jas anggota dewan, Orang kaya kehilangan pembantunya yang ogah kembali. Kantor-kantor tanpa pimpinan, murid-murid hanya ditemani kapur dan papan tulis, guru-guru sibuk main facebook. PNS ngopi di cafe mall. Mereka adalah boneka dari jejalan dakron parlemen. Pengusaha hanya main golf tanpa selingkuh. Kekayaan negeri kepayang tak terhingga.
O, indah nian, semesta kata-kata di mulutmu yang berair tebu. Cawan-cawan persegi yang berwarna-warni anggur janjimu. Sungguh aku mabuk, meski sejenak teringat pada meja makan tak berposting.

Senin, 22 Juni 2009

SAJAK PILEULEUYAN GURU-MURID

Tilu taun hidep ngumpul
ngahiji dina campurna rasa
dina sedih dina bungah
ulin babalagonjangan
di kantin, di kelas, di bangku luar
nu suka bungah lulumpatan
nu sesepakan babasketan
nu ceurik dina lahunan babaturan
kabeh kabayang dina ingetan
jadi silhuet panineungan
nu moal laas ku jaman

Anaking, sirung harepan bangsa
nu gelar di jaman telepon genggam
nu lahir di wanci online
nu hirup di usum facebook
sing iatna miara raga
ulah galideur ku pangbibita
nu ngaruksak hirup - hurip jaga

Anaking,
ramekeun ieu dunya ku kahadean
eusian ku kaadilan
guluburkeun jangjang kajujuran
nu salila ieu ku ibu bapa wantikeun
di kelas-kelas hidep nu hegar
mangpaatkeun pangarti
keur jadi tuturus elmu satuluyna
ulah galideur ku panggoda jaman
nu ngaruksak jiwa jeung iman

Anaking,
Ti detik ka detik
aya catetan kahirupan
nu hamo poho dina ingetan
ulah mulang dina bimbang
ulah balik dina sedih
pileuleuyan ukur kecap
da hate teu merean
papisah ukur dina letah
jiwa urang babarengan


Anaking,
wilujeung angkat
bral geura miang
dina hate nu teteg teger
tembongkeun jati diri
di sakola hidep satuluyna
jadikeun cita-cita
titik nadir kahirupan