Telah kuhisap air tebu di bibirmu yang menempel di rekah parabola.
Sungguh manis rasanya, sampai aku ketagihan seperti iklan wafer momogi.
Lalu akupun pingsan. kutemukan para petani sedang sms-an dengan teman-temannya.mereka tertawa-tertawa bercerita tentang padi yang sekuning paha para gadis bank yang selalu tersenyum ramah ketika setor.
Mereka juga bercerita tentang panen yang berlimpah. Buah jerami itu sungguh elok bila bersanding dengan para cukong dan berubah menjadi rupiah.
Kutemukan juga para nelayan yang sedang rebahan di hotel-hotel tepi pantai.
Mereka membuka seluruh pakaiannya, di perutnya mengeluarkan ikan-ikan yang bergelimpangan. Seperti para petani, mereka tertawa-tertawa membayangkan kura-kura di buah dada gadis bank itu. Mereka bersalaman dengan pengusaha yang pergi meninggalkan gepokan kertas bergambar pahlawan. Dunia petani dan nelayan adalah dunia indah di pingsanku yang hipno.
Telah kureguk anggur di cawan-cawan kotakmu. Yang kausambungkan lewat selang-selang satelit. Lalu aku kepayang di empuknya kasur tipis. Kulihat tukag becak sudah tak mau mengayuh, tukang jahit malas membuat pola jas anggota dewan, Orang kaya kehilangan pembantunya yang ogah kembali. Kantor-kantor tanpa pimpinan, murid-murid hanya ditemani kapur dan papan tulis, guru-guru sibuk main facebook. PNS ngopi di cafe mall. Mereka adalah boneka dari jejalan dakron parlemen. Pengusaha hanya main golf tanpa selingkuh. Kekayaan negeri kepayang tak terhingga.
O, indah nian, semesta kata-kata di mulutmu yang berair tebu. Cawan-cawan persegi yang berwarna-warni anggur janjimu. Sungguh aku mabuk, meski sejenak teringat pada meja makan tak berposting.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar